Aku Yang Dulu Dan Aku Yang Sekarang (Introspeksi Diri Mencari Jati Diri)

135 views

Mamuju, Potretrakyat.com; -Aku Yang Dulu Dan Aku Yang Sekarang
Di GP Ansor Atau Banser, selalu diajar untuk mencintai Ulama dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bukan diajar untuk memfitnah, mencaci maki, maupun menyebarkan berita hoax yang cenderung memecah belah bangsa.

Sama seperti di Pesantren, selalu diajarkan untuk selalu taat beribadah. Termasuk mengikuti Syariat Rukun Imam dan Rukun Islam, menghormati orang tua, menghargai pendapat orang lain dan saling mengingatkan. Bukan diajar untuk bertengkar, berbuat untuk merugikan orang lain, dan mengajak kepada kemungkaran.

Jika dirumah, orang tua selalu mengajarkan untuk menghormati dan mendengar dengan baik ucapan para Ustadz dan Ustadzah yang mengajar di pesantren. Bukan justru membantah dan melawan, serta memandang remeh para ustadz dan ustadzah.

Setelah merefleksi kembali, apa yang diajarkan oleh orang tua, para Ustadz dan Ustadzah di Pesantren, maupun para sahabat – sahabat di GP Ansor. Ternyata mereka menginginkan untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi Keluarga, Bangsa dan Negara. Bukan justru menjadi penyebab hancurnya sebuah Keluarga, maupun Bangsa dan Negara..!!

Pada saat masih di kampung, secara pribadi belum memahami apa itu inti dari sebuah Keluarga, Bangsa dan Negara. Lantaran kurangnya pengalaman organisasi, dan kurang bergaul dengan orang yang berbeda suku dan agama. Namun setelah mengenal para sahabat – sahabat yang berbeda suku dengan saya dan para teman – teman yang beragama Nasrani dan Hindu barulah menyadari mamahami pentingnya sebuah Keluarga, Bangsa dan Negara yang damai.

Bila dulu, sebagai orang Makassar yang tinggal di Jeneponto selalu merasa hebat dan paling mulia dibandingkan dengan suku maupun agama lain. Namun ketika bergaul dengan suku maupun agama lain, ternyata menilai hebat diri sendiri itu terbantahkan, karena banyak orang – orang yang jauh lebih hebat.

Sedangkan menilai diri paling mulia dengan penganut agama lain ternyata juga terbantahkan, lantaran perilaku teman Nasrani dan Hindu lebih manusiawi daripada saya. Kadangkala teman yang beragama Nasrani dan Hindu sering membantu secara suka rela dan bahkan kadang meminta saya untuk melaksanakan sholat dan berpuasa palan suci Ramadhan.

Dari pengalaman yang saya dapat, ternyata menilai diri paling mulia bukanlah hak manusia. Untuk itu marilah kita berbuat sebaik – baik mungkin. Bukan saling memfitnah satu sama lain, mencaci maki, menyebarkan berita hoax, bertengkar dan memandang remeh orang lain, kelompok, agama dan bangsa lain. Manusia itu saling mebutuhkan bukan untuk saling menyakiti.
Marilah jalani hidup dengan damai, menghargai perbedaan, dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta. (*)

By : Irwan (Anak Rantau Jeneponto di Mamuju_ Jurnalis_GP Ansor Mamuju, Sulbar).

Posting Terkait