ANTARA ASPIRASI RAKYAT DAN ANARKISME DALAM DEMO MAHASISWA

794 views

MAMUJU, POTRETRAKYAT.COM; – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan di Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia pada 5 Februari 1947 adalah organisasi yang di kenal intelektual.

HMI ini juga sebuah organisasi kemahasiswaan dikalangan muslim di indonesia, dimana organisasi HMI yang seharusnya memberikan contoh-contoh moral yang baik di kalangan masyarakat namun, pada kenyataannya ada oknum-oknum dalam organisasi HMI yang ada di mamuju, Sulawesi barat ini justru terkesan menjadi kelompok- kelompok layaknya premanisme yang penuh anarkisme.

Sikap anarkisme yang di tunjukkan oleh oknum- oknum anggota HMI terlihat saat melakukan aksinya di depan Kantor DPRD kabupaten mamuju selasa, 24/10/2017 siang.

Massa aksi katanya datang dengan maksud untuk menyampaikan aspirasi rakyat namun pada kenyataannya massa yang datang kedepan gedung DPRD Kabupaten Mamuju siang tadi memecahkan kaca gedung DPRD dan melukai beberapa Satpol PP yang melakukan pengamanan pada saat aksi demo berlangsung.

Sekelompok massa aksi yang mengatas namakan HMI ini juga menerobos masuk gedung DPRD hingga merusak suasana acara ketua DPRD bersama para wartawan Mamuju.

Perlu di ketahui bahwa, Ketua DPRD kabupaten Mamuju di dampingi beberapa anggota DPR lainnya sedang menggelar Coffe Morning bersama para wartawan yang telah dijadwalkan pada hari itu juga dalam membentuk sinergitas antara legislatif dan media dalam mengawal pembangunan yang ada kabupaten Mamuju.

Pada saat massa aksi melakukan orasinya, Ketua DPRD memerintahkan beberapa anggota DPR lainnya untuk menemui massa, hingga kemudian massa di arahkan ke ruang Aula sambil menunggu Ketua DPRD menemuinya.

Namun, arogansi dan anarkisme ditunjukan oleh massa aksi ini yang mengatas namakan suara rakyat dan menyandang predikat berpendidikan tinggi ini dengan cara memilih keluar dari aula dan menerobos acara Ketua DPRD bersama wartawan.

Koordinator lapangan (Korlap), Putra manakarra, saat di konfirmasi mengungkapkan, dirinya bersama rekan lainnya tidak terima menunggu di aula DPRD hingga memilih menerobos acara tersebut.

“Memang tadi di depan, sudah di sampaikan kepada kami kalau ada acara di belakang, tapi yang jadi persoalan bahwa kami sudah lama berorasi kemudian ada informasi bahwa ada kegiatannya ketua di belakang, karena kami tidak ingin di biarkan lama menunggu makanya kami diarahkan ke aula”, Urai Putra manakarra.

Di tempat yang sama, beberapa wartawan yang hàdir saat acara coffee morning bersama anggota legislatif, sangat menyayangkan tindakan massa aksi ini, para pewarta menilai massa aksi ini tidak mempertontongkan sifat seorang mahasiswa serta sangat merendahkan profesi kewartawanan dengan cara mengganggu acara wartawan yang sedang berlangsung.

“Mereka itu kan kelompok intelektual bukan preman, dan juga kita media dan mahasiswa sudah satu, tidak pernah saling mengganggu atau merusak kalau ada acara, setidaknya hal seperti itu harus dilakukan secara intelektual biar elegan”, Tutur Harli salah satu wartawan yang saksi mata kejadian tersebut.(Sir// JM)

Posting Terkait