Berkedok Beri Bantuan Pendidikan Diduga Tim Paslon Bodohi Orangtua Murid

2 views

Mamuju, Potretrakyat.com; -Semakin mendekati Pemilihan Umum Kepala Dearah, segala daya upaya semakin digencarkan oleh para tim pasangan calon dalam usaha untuk mendulang simpati masyarakat. Namun tak jarang segala cara pun ditempuh hanya untuk bisa memenangkan hati masyarakat dalam kotestasi politik yang digelar setiap lima tahun ini.

 Seperti yang terjadi baru-baru ini di salah satu Sekolah Dasar (SD) kabupaten Mamuju, tepatnya di SDN Bulutakkang, lingkungan Bulutakkang, Kelurahan Rangas, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju. Demi meraih simpati warga sekitar utamanya para orang tua murid SDN Bulutakkang, beberapa orang oknum pendukung dari salah satu Paslon tega menipu warga dengan iming-iming akan diberikan bantuan beasiswa.

Akibat perbuatan tersebut (mengiming-imingi orang tua murid dengan bantuan beasiswa untuk ananknya_red;), sejumlah orangtua murid SDN Bulutakkang mendatangi sekolah dan mengobrak-abrik data adminitrasi yang ada di SDN tersebut hanya untuk mendapatkan Nomor Induk Siswa (NIS) Nasional yang diminta sebagai prasyarat bantuan yang dimaksud. Jumat, (13/11/2020).

 Saat diwawancarai di kediamannya, salah satu orang tua murid atas nama Suaib yang sempat dimintai fotocopy Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) serta Nomor Induk Siswa (NIS) Nasional membeberkan kejadian tersebut kepada media ini.

Ia mengatakan bahwa bebrapa waktu lalu dia didatangi oleh seorang pria atas nama Rusli (lebih dikenal dengan panggilan Bapak Igo) yang menawarkan akan mengusahakan bantuan beasiswa bagi anaknya dengan syarat mengumpulkan KTP, KK dan nomor NIS Nasional anaknya dari sekolah.

“Akan ada katanya bantuan beasiswa, makanya itu dia minta KK, sama KTP, sama Nomor NIS Nasionalnya anakku,” kata Suaib.

Saat ditanyakan dari mana nantinya yang bersangkutan akan mengusahakan beasiswa tersebut?. Suaib menjawab; “Kurang tahu dari siapa yang akan koordinasi, cuma datang saja ambil toh… Itu saja yang dia bilang katanya nanti akan ada katanya beasiswa untuk anak-anak kami”.

Lebih lanjut ditanyakan apakah dirinya mengenal pria yang datang menawarkan bantuan tersebut, ia pun menjawab; “Iya kenal, dari ini… anunya tim-timnya Sutina (Paslonkada Mamuju nomor urut 01).  Itu namanya Rusli (Bapa Igo) dan ada juga itu Basir”.

“Semua orangtua murid yang anaknya bersekolah di SD sini (SDN Bulutakang_red;)”, lanjutnya.

Usai mendapatkan keterangan dari orangtua murid itu, media ini langsung menelusuri kebenaran informasi yang disampaikan oleh Suaib (orang tua murid tersebut) dengan mendatangi rumah Rusli (Bapak Igo_red;) yang dimaksudkan oleh Suaib.

 Saat bertemu dengan yang bersangkutan (Rusli_red;), media ini mendapatkan pengakuan dari yang bersangkutan bahwa benar dirinyalah yang mengumpulkan KTP, KK dan NIS murid SD Bulutakkang dengan maksud untuk mengupayakan bantuan beasiswa kepada para murid tersebut.

“Ada 80 murid di sekolah ini dan tidak merata yang dapat beasiswanya. Nah… karena ada orang tua siswa yang mengeluh katanya, “ Bagaimanami ini, anakku tidak ada dapat beasiswa, jadi saya disuruh kumpulkan KTP sama KK itu orang tua murid oleh Panyol,” ungkap Rusli.

Setelah ditelusuri melalui diskusi dengan Rusli maka diketahui bahwa Panyol yang dimaksud oleh Rusli adalah seorang tenaga kontrak Satpol PP yang bertugas di Kantor gubernur dengan nama Asli Parman alias Panjul alias Panyol.

“Dia itu satpol PP di Provinsi. Nabilang saja, kumpulmi saja mudah-mudahan bisa ada bantuannya,” terang Rusli.

Ketika ditanyakan akan disetor kemana KTP dan KK tersebut, dirinya mengelak dan mengaku tidak mengetahuinya. Sebab dirinya hanya diminta untuk mengumpulkan data tersebut dan diserahkan kepada Panyol alias Panjul alias Parman.

Tak sampai disitu, media ini terus melakukan penelusuran hingga ke pihak sekolah SDN Bulutakkang. Dengan menemui salah seorang pengajar di SDN tersebut yang melihat dan mengalami langsung kejadian pengobrak-abrikkan data adminitrasi di sekolah tersebut.

(Nama yang bersangkutan tidak diungkapkan dalam pemberitaan ini sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap narasumber yang tidak ingin disebut namanya).

Pengajar tersebut menguraikan kejadian yang terjadi pada saat itu, “Kemarin ada beberapa orang tua siswa berbondong-bondong datang kesekolah minta nomor NIS nasional, terus waktu itu kita tanya untuk apa ini, jawab mereka ‘Untuk dapat bantuan’. Terus kami bilang biasanya itu kalau bantuan itu melalui sekolah, nah ini kenapa ini kok individu begitu (langsung ke orang tua siswa_red;) jadi kami sebagai guru juga bertanya-tanya”.

“Karena biasanya bantuan apapun itu pasti melalui sekolah, tapi ini mereka langsung datang. Itulah yang membuat kami juga sebagai guru agak jengke, karena kemarin itu sempat mereka datang (orang tua siswa_red;) datang langsung menghambur itu raportnya anak-anak untuk mencari itu Nomor Induk Siswa yang dimaksud. Nah… itu raport kan sudah kami susun baik-baik terus dibongkar jadi kita kan harus menyusun kembali,” keluhnya.

Saat ditanya bantuan dari mana yang dimaksudkan oleh para orang tua murid itu, pengajar itupun menjawab, “Katanya menurut orgtua murid yang datang itu, mereka bilang katanya ada warga yang menyuruh mereka untuk mengumpulkan KK, KTP dan NIS nasional untuk mendapatkan bantuan”.

“Kemarin itu ada yang sempat bilang katanya dari dinas Sosial. Tapi yang bikin kita semua pengajar bertanya-tanya, kenapa tidak melalui sekolah sedangkan biasanya bantuan apa saja pasti melalui sekolah dan nantinya sekolah yang akan mendatanya sesuai persyaratan yang diberikan,” Ungkapnya jelas.

“Dari orang tua siswa yang datang mengatakan bahwa orang yang suruh kumpulkan itu KK, KTP sama NIS itu adalah salah satu tim dari itu… paslon Satu. Karena dia kan bukan pegawai dinas sosial, bukan juga pegawai atau petugas dari dinas pendidikan, dia cuma warga biasa (Rusli/ bapak Igo_red;) tapi kenapa dia bisa menyuruh-nyuruh itu orang tua siswa untuk mengumpulkan KTP, KK dan NIS? dan yang saya tahu dia itu timnya Sutina-Ado,” tutupnya.

Saat media ini melakukan upaya konfiirmasi ke Pihak Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju, melalui Kasi Ketenagaan Bidang SD, Muh. Asrab,S.Pd membenarkan adanya kejadian tersebut bahkan kejadian serupa juga terjadi di SD Inpres Rangas.

Dimana tanpa melalui Disdikpora, tiba-tiba ada kabar dari pihak sekolah, bahwa pihak orang tua siswa berbondong-bondong meminta data-data siswa langsung ke sekolah untuk mendapatkan bantuan pendidikan, berupa beasiswa.

“Seharusnya kalau ada bantuan seperti itu, misalnya bantuan pendidikan dari dinas, setidaknya ada pemberitahuan ke kantor tentang penyaluran dana tersebut”, Ucap Asrab.

Lanjut dikatakan Asrab, artinya dari sisi positifnya memang baik, karena berupa bantuan. Tapi kita tidak tahu dari mana dan bagaimana, jangan sampai nanti ada yang salah atau keliru disitu.

“Kita inikan institusi, jadi harus jelas dan terstruktur,” sambungnya.

“Kami juga telah menghubungi pihak kepala sekolah, supaya tidak melayani hal-hal seperti itu, misalnya permintaan data siswa untuk kepentingan – kepentingan tertentu yang tidak jelas, terkecuali ada alasan jelas dari pihak orang tua siswa itu sendiri,” kunci Asrab, kepada media ini Via telepon.// Rls// **The_man.

banner 468x60)

Posting Terkait