Harga Mahal Yang Harus Dibayar Edgard Demi Mengejar Mimpinya

3 views

Mamuju, Potretrakyat.com;Maksud hati ingin mengharumkan nama bangsa dan daerahnya, Edgard malah harus menerima kenyataan pahit, dikeluarkan dari sekolahnya dengan alasan kehadiran yang kurang.

Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN_red;) I Mamuju nampaknya bukan tempat untuk siswa berprestasi. Pihak sekolah mengeluarkan salah satu siswanya yang sedang mengejar mimpinya sebagai pemain bola profesional.

Siswa yang dikeluarkan dari sekolah unggulan di Mamuju itu yakni Edgard Amping. Siswa yang duduk di kelas 11 ini terpilih mewakili Indonesia di ajang bergengsi Garuda Select 2019 ke Inggris dan Italia. Untuk lolos di ajang ini tidaklah mudah. Harus melalui serangkaian seleksi.

Dia akan berangkat ke London, Inggris hari Rabu, 9 Oktober 2019. Selain Edgard, dua pemain muda akademi PSM lainnya yakni Rafly Asrul dan Renaldi juga lolos Garuda Select.

Mereka akan berangkat ke London, Inggris. Di sana mereka akan menempuh serangkaian latihan dan berlaga dengan akademi klub-klub Inggris. Mereka akan menjalani 17 kali pertandingan selama delapan bulan berada di Inggris.

Di sana para pemain Garuda Select akan menempuh serangkaian latihan dan berlaga dengan akademi klub-klub Inggris. Mereka akan menjalani 17 kali pertandingan selama delapan bulan berada di Inggris.

Sejak masih SMP, Edgard Amping juga merupakan salah satu yang lolos dalam club yang mewakili Indonesia untuk berlaga pada kejuaraan sepakbola U-15 to China Dream Come True International Youth Football pada 16-22 April lalu. Edgard merupakan satu-satunya yang mewakili Indonesia di luar Pulau Jawa.

Raihan prestasi itu memaksanya harus absen dari pelajaran di sekolah karena kesibukan menjalani latihan dan ikut seleksi.

Ditemui di rungannya, Wakil Kepala Sekolah SMAN I Mamuju, Yusuf S. mengatakan pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Keputusan mengeluarkan Edgard dari sekolah sudah bulat setelah rapat dengan seluruh guru dan BK di sekolah.

“Kita di sini kalau kehadiran anak-anak itu 80 persen untuk naik kelas. Kalau tidak ada informasi, surat masuk (izin_red;) dari kementerian dan dari pihak penyelenggara tidak ada juga. Cuma kabarnya kita dengar dia ke sini, kesini (keluar daerah_red;) jadi kita tidak tahu bagaimana menanganinya,” kata Yusuf. Selasa, (8/10/2019).

Yusuf mengatakan pihaknya sudah memanggil orangtuanya ke sekolah. Karena sudah tidak ada jalan, pasti tidak naik kelas.

“Setelah orangtuanya ketemu BP, solusinya dia minta rekomendasi untuk pindah ke SMAN 2 Mamuju,” katanya.

Pihak sekolah, kata Yusuf, hanya menerapkan aturan sekolah. Apalagi memang tidak ada penyampaian dari Disdik Sulbar ke sekolah bahwa anak ini akan mengikuti kegiatan di luar.

“Kita mendukung prestasinya itu. Cuma sayangnya tidak ada surat (pemberitahuan_red;) dari penanggungjawabnya. Masalah administrasi ini. Kita menunggu saja,” katanya.

Orang Tua Edgard, Luther Amping saat dikonfirmasi oleh wartawan FAJAR, mengaku sudah pasrah jika anaknya harus pindah sekolah daripada tidak naik kelas.

“Saya sebenarnya sadari karena sekolah punya aturan. Karena dianggap kehadirannya sudah tidak memenuhi syarat untuk naik kelas, jadi sudah tidak bisa, jadi apa boleh buat saya carikan sekolah yang bisa natempati anakku,” katanya.

Dia hanya berharap agar anaknya bisa berangkat ke London, Inggris tanpa beban. Luther mengaku memilih SMAN I Mamuju untuk anaknya menempuh pendidikan formal karena merupakan salah satu sekolah unggulan di Mamuju. Apalagi, dia masuk melalui jalur prestasi.

“Dalam hal sepakbola ini anak sudah kelihatan prestasinya dan berhasil mewakili Indonesia di luar. Besok sudah berangkat ke Inggris. Manfaatkan kesempatan ini supaya apa yang dicita-dicitakan bisa tercapai,” katanya.

Sementara itu, Edgard beserta dua oe.ain lainnha akan berada di Inggris selama lima bulan dan dua bulan di Italia.

Kepala Dinas Pendidikan Sulbar, Arifuddin Toppo mengatakan pihaknya belum mengetahui masalah ini. Pihaknya baru akan melakukan penelusuran.// Arul // **Judistira.

#Sumber berita; Media Fajar (Sulbar).

Posting Terkait