Issu ‘Pendatang’ Dipolitisasi. Hudri Ali; Jangan Ada Pihak yang ‘Memancing Di Air Keruh’

2 views

Mamuju, Potretrakyat.com; -Debat kandidat putaran pertama pemilihan bupati dan wakil bupati Mamuju telah dilangsungkan. Sabtu, (31/10/2020).

Dua pasang kandidat yakni Hj. Sitti Sutinah Suhardi berpasangan Ado Mas’ud dengan nomor urut 1, serta pasangan H.Habsi Wahid dan H.Irwan SP Pababari dengan nomor urut 2, berkesempatan membeberkan Visi-Misinya serta melakukan adu argumen ke hadapan publik melalui siaran live yang ditayangkan di TVRI Sulbar serta akun media sosial milik lembaga penyiaran publik lokal tersebut dan akun KPU Mamuju.

Salah satu yang menarik, dalam salah satu sesi, pasangan Habsi-Irwan yang mendapat cecaran pertanyaan dari Tina-Ado soal peningkatan angka kemiskinan mendapat jawaban dari Habsi Wahid, bahwa angka kemiskinan juga di pengaruhi adanya urbanisasi yang menyebabkan Mamuju sebagai ibu kota provinsi dan sebagai daerah terbuka sangat dimungkinkan menjadi tujuan para pendatang yang sebagian tidak memiliki keahlian sehingga disaat dilakukan pencacahan menjadi salah satu penyumbang angka kemiskinan.

Anehnya issu ‘pendatang’ ini tidak finis dalam masa debat kandidat, nyatanya tetap berlanjut dalam dunia maya dengan berbagai opini yang sengaja dibuat oleh masing-masing pendukung paslon maupun para simpatisan.

Dari kacamata saya, kondisi ini adalah hal yang sangat wajar, mengingat ini adalah kompetisi yang semua pihak tentu ingin meyakinkan publik dengan argumentasinya masing-masing, namun yang menjadi pertanyaan terbesarnya, apakah benar jawaban Paslon nomor 2 tidak di fahami oleh lawan debat sekaligus pihak yang berada disekitarnya?

Mariki cek fakta,
Dari struktur pemerintahan, para kepala OPD pemkab Mamuju yang dipimpin Habsi Wahid dan Irwan Pababari nyaris lebih dari setengahnya produk Urbanisasi, sebut saja kadis DLHK Hamdhan Malik, atau Kadis PU Salihi Saleh, bahkan Sekda Mamuju H. Suaib semuanya tentu tidak termasuk orang yang miskin. Lanjut ke Sektor Usaha nyaris sebagian besar pengusaha di Mamuju juga pendatang bahkan sebagian adalah non pribumi, apakah mereka sebagai urban juga termasuk penyumbang kemiskinan di Mamuju? Tentu tidak.

Dari analisa singkat ini sudah bisa dipastikan jawaban Habsi-Irwan soal ‘pendatang’ Yang memberi sumbangsi peningkatan angka kemiskinan bukan secara struktural dan tidak dimaksudkan untuk semua orang yang disebut ‘pendatang’, karena faktanya justru para pendatang sangat banyak yang telah berhasil meningkatkan kesejahtraannya di Mamuju bahkan saya, anda dan kita semua mendapat kesempatan yang sama di Mamuju untuk melakukan usaha demi meningkatkan derajat kehidupan kita.

Yang sangat disayangkan, ada oknum yang memanfaatkan kondisi ini untuk melakukan provokasi dan mengarahkan kebencian para pendatang untuk kepentingannya, padahal saya meyakini merekapun memahami bahwa ‘Pendatang’ yang dimaksudkan adalah mereka yang belum memiliki keahlian dan menjadikan Mamuju sebagai tujuan untuk mencari pekerjaan, karena menganggap Mamuju sebagai daerah yang kaya dan banyak menyimpan kesempatan yang lebih baik dari daerah lain.

Kesimpulannya, mari berpilkada dengan damai, jangan ada pihak yang ‘Memancing di air keruh’, berpura-pura tidak tahu untuk membodohi masyarakat yang memang tidak tahu.// Rls// **The_Man.

Oleh: Hudri Ali.

banner 468x60)

Posting Terkait