MA Cabut Belenggu Angkutan Online – Taksi Konvensional Perlahan Gulung Tikar

4266 views

MAKASSAR,POTRETRAKYAT.COM-Mahkamah Agung (MA) telah mencabut Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) tentang transportasi online. Namun, keputusan tersebut dinilai bisa mematikan keberadaan sejumlah taksi konvensional.

MA telah mencabut Permenhub Nomor 26 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum tidak dalam trayek. MA memerintahkan Menteri Perhubungan, Budi Karya, mencabut 18 pasal dalam aturan tersebut, karena bisa mengakibatkan sejumlah perusahaan taksi online gulung tikar.

Ketua Aliansi Masyarakat Transportasi Indonesia (AMTI) Sulsel, H Burhanuddin, mengungkapkan, keputusan yang dikeluarkan MA merupakan suatu hal yang buruk, karena membuka jalan menuju kematian bagi para perusahaan taksi konvensional. Ia pun menuding para hakim MA “masuk angin”.

“Keadilan taksi online? Modus. MA itu masuk angin. Makanya mereka (taksi online) ngotot untuk dilepas. Nanti, kami akan aksi di DPR Pusat untuk tuntut ini. Ngapain ke DPR masing-masing, buang air keringat saja. Kami akan konsolidasi dengan daerah yang lain, seperti Bali, Malang, Semarang,” ujar Burhanuddin via seluler, Rabu (23/8).

Burhanuddin menilai, keputusan tersebut bisa mengakibatkan aspek sosial yang tidak berimbang. Sehingga, di sisi perekonomian kian menyusut. “Tidak berimbang, karena rerata perusahaan taksi online kebanyakan kredit mobil dan saat ini banyak yang ditarik. Ini membuat rugi bagi kami dan memberi keuntungan dari taksi online,” katanya.

Ia menyebutkan, saat ini taksi online mempunyai kuota hingga 7.000 unit di Sulsel. Sedangkan taksi konvensional sisa 1.000 unit.

“Sekarang sisa 50 unit taksi beroperasi. Dulu, 3.500 kuota taksi konvensional di Makassar, dari 14 perusahaan. Terdiri dari Bosowa 400 unit, Blue Bird 200 unit, dan yang lain hanya 50 unit. Tarif turun hingga 70 persen. 4.300 angkutan umum sisa puluhan yang beroperasi. Pendapatannya juga turun hingga 70 persen omzetnya. Ini membuat perlahan mematikan perusahaan taksi konvensional yang mengikuti peraturan yang ada. Coba lihat, saat ini sisa Bosowa dan Blue Bird, sedangkan yang lain sudah mati. Diprediksi 2018, pasti sudah tidak ada lagi,” terangnya.

(Sumber Rakyat sulsel)

Posting Terkait