Mengenal Perahu Tercepat Sedunia: Sandeq!

504 views

POTREKRAKYAT.COM-Sekira pukul 10.30 WIT, panitia mengumumkan bahwa di balik pulau To’salama perahu sandeq AIM Benar disalip oleh perahu Puteri Sulbar. Benar saja, ketika mereka muncul di di Teluk Mandar, perahu yang disponsori Bupati Majene Haji Kalmakata itu memimpin etape Ujung Lero – Pantai Bahari Polewali Mandar pada Sabtu, 13 September 2014 pada “Sandeq Race 2014” .
Para penonton yang berada di dermaga Pantai Bahari Polewali mandar pun riuh bertepuk tangan. Meski tepukan dan suara mereka kalah oleh debur gelombang laut di Teluk Mandar, namun ekspresi riang para penonton menambah semangat para awak Sandeq yang sedang memacu perahunya ke daratan.

Setelah berjarak sekitar 200 meter, tampaklah Para awak Puteri Sulbar yang berjumlah delapan orang berpakaian jingga itu dengan gagah memasuki Teluk Mandar. Disusul pada posisi kedua perahu Brest Perancis yang disponsori Kadis Disporapar Sulawesi Barat, dan ketiga Bintang Timur yang disponsori oleh Koran Sindo.

Sementara di kejauahan di sekitar Pulau Battoa, sejumlah perahu sandeq terus berpacu menuju Teluk Mandar yang menjadi etape ketiga, setelah sebelumnya mereka menyelesaikan etape kedua dari Ujung Lero.

Tak lama kemudian, muncul perahu Merpati di posisi keempat dan Rahmat Ilahi di posisi kelima. Disusul oleh Halilintar, Dondori, Surya Persada, Sampurna, bersaing ketat. Ain benar yangbpada awalnya diperkirakan bakal memimpin di atape ini, sekarang terseok-seok dan harus bersaing ketat dengan Merpatih Putih.

Seluruh peserta Sandeq Race 2014 harus menyelesaikan enam etape, mulai dari Makassar dinPelabuhan Barru, Barru-Ujung Lero, Ujung Lero-Polman, Polman-Majene, Majene-Banua Sendana, Banua Sendana-deking, deking-Mamuju. Mereka akan mengarungi laut sepanjang kurang lebih 200 km dengan total hadiah 400 juta rupiah.

***
Sandeq adalah Mandar, karena sandeq lahir dari suku Mandar. Sebelumnya, perahu mereka bernama Pakur, yakni jenis perahu bercadik masih kasar bentuknya dan lebih lebar. Pakur kemudian berevolusi, menjadi sandeq. Pertimbangannya untuk kecepatan. Itulah sebabnya, bentuk ideal Sandeq adalah seperti jantung pisang jika dilihat dari muka. Dan soal kecepatan, konon sandeq adalah perahu tercepat sedunia.

Perahu sandeq adalah perahu tradisional suku Mandar. Suku Mandar ini mendiami pulau Sulawesi bagian barat. Suku Mandar dikenal sebagai suku yang hidup dominan di wilayah maritim atau laut. Tak heran, banyak kalangan menilai bahwa mandar adalah pelaut ulung yang melintasi luasnya lautan dengan keberaniannya menggunakan perahu sandeq.

Penamaan sandeq berasal dari bahasa mandar yang sama “sande’” yang berarti runcing, sebagaimana bentuk perahu tersebut yang memang nampak runcing di bagian haluan dan buritannya. Haluan dan buritan ini masing-masing disebut sebagai paccong, paccong uluang untuk haluan dan paccong palaming untuk buritan.

Menurut penelusuran pengamat budaya Mandar, Dahri Dahlan, perahu sandeq lahir pada tahun 1930-an di Pambusuang, salah satu desa pelaut yang sekarang berada dalam kecamatan Balanipa. Sebelum tiba pada generasi perahu sandeq yang sekarang dapat kita lihat di sepanjang pantai di Mandar, ada beberapa jenis perahu yang terus mengalami perubahan bentuk hingga tiba pada bentuk mutakhir sandeq.

Sandeq yang kita kenal kini adalah perubahan dari bentuk dan jenis pakur. Bentuknya lebih besar dan agak kasar dibandingkan dengan generasi sandeq yang lebih ramping. Layar yang masih berbentuk segi empat dengan menggunakan dua bon dan satu layar. Dahulu, selain digunakan untuk mencari ikan, pakur juga digunakan sebagai alat transportasi laut utama untuk mengekspor bahan pangan dan lainnya, misalnya gabah, kapur, madu, dan sarung sutra ke berbagai tempat di seluruh nusantara.

Tidak hanya sampai di situ, perahu jenis pakur juga merupakan sebuah bentuk perubahan dari perahu olang mesa. Olang mesa hampir sama bentuknya dengan pakur namun memiliki sedikit perbedaan pada bagian layar. Jadi jelaslah bahwa sande’ adalah sebuah perahu dengan hasil rancangan manusia mandar dengan pikiran yang sistematis sesuai dengan tuntutan zaman. Berikutnya kita akan membahas perahu sande’ dari ciri-ciri atau bentuknya.

Ciri-ciri perahu sandeq

Lebih jauh Dahri mengungkap, ciri-ciri perahu sande’ adalah (1) bercadik: sejenis sayap yang terdapat di bagian badan perahu sebagai penyeimbang, jumlahnya ada dua, satu di bagian haluan dan satu di bagian tengah perahu. Penyeimbang atau cadik ini disebut sebagai baratang. Untuk bagian haluan disebut baratang uluang dan untuk bagian tengahnya disebut baratang palaming. Pada masing-masing ijung cadik ini dipasang bambu sebagai penyeimbang. Bambu inii disebut sebagai palatto. Untuk menghubungkan antara baratang dan palatto ini dibutuhkan sebuah kayu yang berbentuk siku lagi atau berbentuk huruf L terbalik, dan kayu ini disebut sebagai tari’, jumlahnya ada 4 untuk masing-masing ujung baratang atau katir.

Karena sandeq adalah perahu tradisional yang hanya mengandalkan angin sebagai tenaga pelayaran utamanya (sekarang ada beberapa sande’ yang dipasangi perahu motor) maka tentunya perahu ini membutuhkan layar. (2) layar perahu sandeq berbentuk segi tiga, tiangnya disebut pallayarang dan untuk bon atau andang-andangnya disebut sebagaii peloang, berasal dari kata pelo’ yang berarti gulungan, karena saat selesai berlayar, layar perahu sandeq digulung pada peloangnya.

Ciri ke (3) perahu sande’ dicat berwarna putih. Ada beberapa kalangan yang menilai bahwa pilosofi dari warna putih sande’ ini adalah menandakan kesucian, namun menurut salah seorang nelayan pengguna perahu sande’ yang pernah ditemui, alasan mereka menggunakan warna putih yang seragam bagi semua perahu sandeq adalah agar terlihat bersih dan rapi.

Tipe atau jenis perahu sande’ berdasarkan jenis nelayan di Mandar

1) Pangoli
Terdiri atas 1-2 awak perahu Sandeq yang berukuran antara 3-4 m. kegiatan melautnya dimulai pada waktu subuh (terjadinya angin laut) dan diakhiri saat siang sampai sore hari (saat terjadinya angin darat). Alat tangkapnya hanya berupa tasi (tali monofilamen) dan kail beserta umpan.

2) Parroppong
Terdiri atas 2-3, bahkan 4 awak perahu, ukuran perahunya lebih besar dari ukuran Pangoli, lama waktu melaut 3-7 hari. Tempat mereka menagkap ikan lebih jauh dari Pangoli dan berpusat di Roppong (semacam rakit yang ditanam di laut).

3) Pallarung
Lama mereka melaut bisa mencapai 30 hari, awak perahunya 4-6 orang, jenis ikan yang ditangkap lebih spesifik, hanya jenis ikan dasar laut yang biasa mereka sebut bau batu. Dulu, mereka hanya mengandalkan sistem fementasi garam dalam mengawetkan ikan hasil tangkapan, hingga yang mereka jual adalah ikan kering/asin (bau maraqe/masing). Namun sejalan dengan perkembangan teknologi saat ini mereka sudah mengawatkan ikan hasil tangkapan dengan cara dibekukan dengan es dalam peti khusus/termos, hasilnyapun lebih menjanjikan; ikan segar (bau baru).

4) Potangga
Perbedaan antara Potangga dan Pallarung hanya terletak pada jenis dan cara penangkapan hasil lautnya. Tangkapan utama mereka adalah ikan terbang (CypsilurusAltipennis, Lat.) atau istilah setempat Tuing tuing, dan yang paling diutamakan adalah telurnya. Alat penangkapan ikan dan telurnya mereka sebut; buaro, epe epeq, gandrang, dsb. Biasanya terbuat dari bambu dan daun kelapa. Mereka hanya melakukan kegiatan motangga saat terjadinya musim angin timur yang terjadi antara bulan Mei sampai akhir bulan Agustus sepanjang tahun.

Beberapa tahun terakhir ini perahu Sandeq juga dilombakan kecepatannya. Ajang yang paling bergengsi yang diadakan tiap tahunnya adalah ‘Sandeq Race’. Tiap bulan Agustus, berpuluh-puluh perahu Sandeq mengadu kecepatan untuk memperebutkan gengsi dan tentunya uang. Perlombaan dimulai dari kabupaten Mamuju dan berakhir di Makassar. Lomba tersebut diadakan untuk memperingati hari jadi bangsa Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus.

Ajang yang sudah menjadi rutinitas tahunan oleh dua provinsi yang bertetangga, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan ini dianggap mampu mempertahankan pelestarian perahu sande’ yang perlahan tergeser dengan keberadaan perahu motor modern yang semakin banyak digunakan. Para nelayan memilih beralih untuk menggunakan perahu motor untuk melaut dengan alasan lebih cepat dan evisien, sebab perahu sande’ hanya mengandalkan kekuatan angin yang terkadang tidak seperti dengan harapan nelayan. Jika angin terlalu kencang, mereka enggan untuk melaut dan jika tidak ada angin, jelas perahu sande’ tidak bisa dilayarkan.

Jodhi Yudono

@JodhiY

Posting Terkait