Ngenteg Lenggih, Upacara Keagamaan Hindu Yang Pertama Kali Diselenggarakan Di Sulbar

277 views

Mamuju, Potretrakyat.com; –Upacara keagamaan Ngenteg Leggih Untuk Pertama Kalinya Diselenggarakan di Sulawesi Barat lebih khususnya di Kabupaten Mamuju.

Ngenteg Leggih merupakan pelaksanaan upacara paling akhir dari pelaksanaan upacara mendirikan Pura (Tempat Ibadah bagi umat agama Hindu). Nganteg Lenggih mempunyai makna upacara menyucikan dan mensakralkan bangunan baru (Niyasa) dimana dalam bahasa Bali, Ngenteg artinya ‘Mengukuhkan’ dan Linggih artinya ‘Kedudukan’.

Penyelenggaraan upacara Nganteg Lenggi tersebut dihadiri Oleh Wakil Bupati Mamuju H.Irwan SP Pababari, PEMBIMAS Hindu Kanwil. Kemenag. Sulbar, I Wayan Suparka, Ketua PHDI Wayan Supatra, Sekretaris Kecamatan Tommo Bernadus, Kepala Desa Tommo Nyoman Sudita dan pemuka agama serta tokoh-tokoh Masyarakat se- Kecamatan Tommo.

Pelaksanaan yang pertama kali diadakan secara meriah di Provinsi Sulawesi Barat yang dipusatkan di Pura Agung Kerta Desa Tommo Kecamatan Tommo Kabupaten Mamuju. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Putu Yasa, ketua Parisada Hindu Indonesia (PHDI) Kecamatan Tommo. Senin, (24/09/2018).

Masih kaitan penyampaian Putu Yasa, “Ngenteg Lenggih tersebut diselenggarakan, karena telah selesainya pembangunan Pura yang dibangun secara gotong royong oleh umat, masyarakat setempat dan Pemerintah. Dan saya berharap kiranya di tempat lain juga bisa diselenggarakan acara tersebut”, Katanya.

Terkait penyelenggaaan upacara tersebut, I Wayan Suparka, selaku Pembina Masyarakat Hindu, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat (PEMBIMAS Hindu Kanwil. Kemenag. Sulbar) menyampaikan bahwa dengan diselenggarakannya pelaksaan upacara tersebut adalah selain untuk menyucikan tempat ibadah, juga salah satu bentuk sosialisasi untuk Atmanastuti yang pengertiannya adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan Brahman (Dewanagari atau Penguasa Tertinggi dalam agama Hindu yang bersifat kekal dan tidak berwujud).

“Dalam menyucikan setiap bangunan baru, sehingga nantinya bisa berfungsi dengan baik dan dengan diselenggarakannya Nganteg Lenggih tersebut, masyarakat di Tommo bisa menggunakan Pura sebagai tempat ibadah sebagai tempat ibadah bersama”, Ungkap I Wayan Suparka.

Di tengah-tengah sambutannya, Ia berpesan, “Mari kita bersama – sama membangun sumber daya manusia dengan berpedoman pada agama, sehingga kerukunan beragama bisa terjalin hubungan dengan baik, baik itu antar umat beragama Hindu maupun agama lain dan hubungan ke Pemerintah,” Ungkap I Wayan.

Dalam sambutannya, I Wayan Suparka juga menyampaikan kepada pemerintah yang hadir pada acara tersebut, kiranya memberikan pembinaan kepada umat Hindu.// *JM.

Posting Terkait