Perang Narkoba Makin Banjir Kecaman

DESAK: Warga melakukan aksi damai menentang perang narkoba yang dicanangkan Presiden Filipina Rodrigo Duterte di Manila, Filipina, Senin (21/8). (REUTERS/Erik De Castro)
172 views

POTRET.COM-Gelombang protes atas kampanye brutal antinarkoba di Filipina belum usai. Kemarin (21/8) massa yang menuntut keadilan bagi Kian Lyod Delos Santos, pelajar 17 tahun yang menjadi korban tewas karena razia antinarkoba yang digagas Presiden Rodrigo Duterte, beraksi di tiga lokasi. Para senat pun sepakat untuk bertindak.

Kelompok pertama berdemo di Plaza Miranda di Quiapo, Manila. Kelompok kedua mobile. Mereka berjalan dari Gereja St Quiteria di Caloocan City menuju lokasi penembakan Santos di Barangay 160. Para pengunjuk rasa mengenakan baju hitam serta membawa lilin. Warga yang melihat rombongan itu secara spontan ikut bergabung. Mereka ingin menunjukkan dukungan untuk keluarga Delos Santos dan meminta keadilan bagi seluruh keluarga korban.

Aksi ketiga dihelat di People Power Monument yang terletak di Epifanio de los Santos Avenue (EDSA). Mereka menuntut agar kampanye narkoba di Filipina diakhiri. Setidaknya, 12.500 orang tewas sejak Duterte meluncurkan kampanye itu tahun lalu. Dunia mengecam, tapi tidak pernah ada tindakan yang nyata untuk menghentikan, bahkan dari PBB sekali pun.

Senat Filipina tak mau ketinggalan. Minggu malam (20/8) mayoritas senat sepakat menandatangani draf resolusi untuk mengecam operasi narkoba yang diberi nama One Time Big Time tersebut. Dalam operasi yang berjalan hanya tiga hari itu, lebih dari 80 nyawa melayang tertembus peluru Polisi Nasional Filipina (PNP). Senat meminta operasi tersebut diselidiki. Terutama mengenai kematian Santos.

Resolusi yang disetujui 17 di antara 24 senator itu dibahas hari ini saat seluruh kegiatan di senat kembali aktif. Mayoritas senator tersebut menginginkan agar dibentuk komite khusus untuk menyelidiki tindakan-tindakan menyimpang dalam operasi antinarkoba itu.

Mayoritas senator yang menandatangani draf itu berasal dari partai-partai yang bersekutu dengan Presiden Filipina Rodrigo Duterte. ”Pelanggaran yang secara nyata dilakukan polisi dalam operasi narkoba ini telah membuat serangkaian tragedi (salah satunya, Red) seperti Kian Lyod Delos Santos,” bunyi penggalan draf itu.

Beberapa saksi mengaku melihat kekejian polisi dalam kasus Santos. Remaja yang masih duduk di kelas XI tersebut tiba-tiba ditarik polisi berpakaian preman. Matanya ditutup. Santos menangis memohon ampunan untuk nyawanya. Namun, polisi dengan sadis menembak mati dirinya.

Unit yang bertugas menyelidiki kasus-kasus yang melibatkan anggota PNP, yaitu Internal Affairs Service (IAS), juga dinilai bergerak lamban. Alih-alih mencari petugas kepolisian yang bersalah, IAS dituding berusaha meringankan anggota PNP. (*)

(Inquirer/Philstar/CNN/sha/c16/any)

Posting Terkait