Sungguh Biadab!!!…. Guru Bully Siswanya Hingga Nekad Bunuh Diri

488 views

JAKARTA, POTRETRAKYAT.COM, 07/09/17 ; – Dalam sudut pandang Theologi, anak adalah amanah yang dianugerahkan dan dititipkan Tuhan kepada orangtua dan keluarga. Kemudian dari perspektif Hak Asasi Manusia (HAM) anak mempunyai hak hidup dan tidak satupun orang yang mempunyai Otoritas  menyiksa, mencederai bahkan mencabut hak hidup  manusia kecuali sang penciptanya. Itu artinya anak mempunyai Harkat dan Martabat sebagai Manusia. Demikian juga dalam sudut pandang hukum, pasal 54 UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak juncto UU RI No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, bahkan UUD 1945 anak harus terbebas dari Kekerasan, Penyiksaan, Penganiayaan, dan Merendahkan Martabat serta Diskriminasi.

Sekolah juga wajib menjadi zona bebas dari kekerasan baik yang dilakukan oleh Pengelolah dan Pemilik Sekolah, Guru, peserta didik maupun orang-orang yang terlibat dalam pengelolaan sekolah. Itu artinya sekolah WAJIB  memberikan rasa Nyaman dan terbebas dari Kekerasan.

Disamping itu, peristiwa-peristiwa kekerasan yang dialami anak baik Fisik dan Seksual termasuk juga kekerasan dalam bentuk “Bullying” atau Perisakan umumnya berdampak pada Gangguan Psikologis, Depresi dan Bunuh diri.

Namun apa yang dirasakan FK, 16, siswa SMPN Lembata, NTT bertolak belakang terhadap konsep dan ketentua Perundang-undangan. FK justru menjadi korban Bully terus menerus dari gurunya sendiri  mengakibatkan FK saat ini mengalami Depresi dan melakukan percobaan Bunuh diri dengan meneguk Racun.

Kasus percobaan Bunuh diri karena dibully BB (32) guru Bahasa Indonesianya bermula dari Kamis 31/08/17, korban  mendapat bullying atau Perisakan dari gurunya.

Menurut orangtua FK kepada Quick Investigator Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di Lembata, korban   saat ini sedang mendapat perawatan medis secara intensif di RSUD Prof Dr. Johannes di Kupang setelah mendapat rujukan dari RSUD di Lembata. Korban saat ini dalam kondisi Depresi berat karena korban  sering mendapat Hinaan dan Cercaan dari gurunya seperti meyebutkankan korban “Kau dari keturunan yang tidak jelas dan Miskin, dan mengatakan bahwa makanan anak saya sama dengan makanan Babi, Bodoh, bahkan menyebutkan tempat tinggal anakku sama seperi Kandang Babi”. Ejekan dan Hinaan ini sering dilakukan gurunya didepan kelas dan teman-temannya peserta didik sepanjang jam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ejekan dan Hinaan yang tidak patut dan tidak pantas dilakukan seorang guru mengakibatkan 31 Agustus 2017 selepas pulang sekolah FK buru-buru pulang kerumah lalu meneguk racun rumput dirumahnya.

Menurut laporan dari salah seorang keluarga kepada Komnas Perlindungan Anak dan dari berbagai link berita atas kasus ini adalah sangat disayangkan Kepala Sekolah dan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Lembata seolah-olah lepas tanggungjawab dan tidak mau tahu alias Cuci Tangan.

Untuk memberikan yang terbaik bagi korban dan memberikan Pembelaan Hukum bagi FK, Komisi Nasional Perlindungan Anak  sebagai Lembaga Independen yang memberikan Pembelaan dan Perlindungan Anak bersama dengan Quick Investigator LPA di NTT yang berafiliasi dengan Komnas Perlindungan Anak Medesak bupati Lembata untuk segera memberikan Sanksi Administratif berupa pemberhentian BB dari pekerjaannya sebagai guru dan memberikan sanksi yang sama  juga kepada Kepala Sekolah dan Dinas PPO yang bertanggungjwab terhadap tupoksinya, demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait (Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak RI) kepada media di Jakarta.

Sikap dan prilaku BB  bukanlah lagi sebagai cerminan guru yang seyogianya memberikan rasa nyaman, perlindungan bagi peserta didik. Ejekan dan hinaan BB terhadap korban merupakan penghinaan terhadap harkat dan martabat manusia. Dan yang lebih  fatal lagi perbuatan dan tindakan BB tidaklah lagi menjunjung tinggi Moralitas dan nilai-nilai kebaikan. Oleh sebab itu tidaklah pantas lagi BB menjadi guru, demikian disampaikan Arist.

Untuk memberikan pendampingan Psikologis dan pembelaan hukum terhadap korban,  Komnas Anak sebutan lain dari Komnas Perlindungan Anak bersama LPA Kota Kupang segera menerjunkan Tim Advokasi dan mendorong keluarga untuk segera membuat Laporan Polisi dan meminta Polres Lembata membukan diri untuk menerima laporan keluarga. Imbuh Arist.// Sumber Berita; Realese Arist Merdeka Sirait (Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak RI)

Posting Terkait