Upaya Kementan Lindungi Petani Cabai Saat Harga Anjlok Saat Penen

upaya-kementan-lindungi-petani-cabai-saat-harga-anjlok-saat-penen_m_152651
993 views

JAKARTA,POTRETRAKYAT.COM-Pasokan cabai yang melimpah karena masa panen dapat memicu turunnya harga cabai di beberapa wilayah, khususnya di Pulau Jawa. Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), Spudnik Sudjono, mengatakan Kementan telah mengantisipasi turunnya harga cabai dengan menerapkan pola kemitraan antara petani dengan pedagang cabai besar dan industri pengguna cabai.
“Pola kemitaan ini kami harapkan mampu mengatasi masalah cabai, khususnya penurunan harga saat panen” tegasnya dalam keterangan tertulis, Selasa (22/8).

Pihaknya membuat kemitraan antara produsen bubuk cabai, produsen sambal, dan kemitraan petani langsung ke konsumen lewat Toko Tani. Sehingga cabai petani dibeli langsung.

Pola kemitraan juga dilakukan melalui petani-petani andalan yang dikategorikan sebagai petani champion. Petani champion berkoordinasi dengan industri sehingga cabai di tingkat petani bisa terserap maksimal.

“Saat ini misalnya, champion di Magelang sudah membangun kerja sama dengan industri, khususnya untuk cabai rawit merah. Kerja sama dilakukan antara lain dengan rumah makan dan industri kecil lainnya”, ujar Spudnik.

Data Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian mencatat ketersediaan cabai rawit merah sepanjang Agustus 2017 mencapai 81.864 ton, sementara kebutuhannya 73.197 ton, sehingga terjadi surplus 8.667 ton.

Sementara surplus capai sepanjang September 2017 diperkirakan mencapai 8.991 dan pada Oktober 2017 surplus mencapai 8.669 ton.

“Bahkan ketersediaan aneka cabai mulai Agustus, September sampai Oktober nanti dapat dikatakan mencukupi, bahkan surplus jika dibandingkan dengan kebutuhan secara nasional,” ujar Spudnik.

Kementerian Pertanian juga telah mengatur manajemen tanam cabai sesuai yang tertuang dalam Undang-Undang nomor 13 tahun 2010 tentang Hortikultura yang mewajibkan pemerintah pusat dan daerah menjamin ketersediaan distribusi dan pemasaran di dalam ataupun luar negeri.

Manajemen tanam diatur dalam rangka menjaga agar ketersediaan dapat berlangsung setiap bulan dan sepanjang tahun, sehingga pertanaman terjaga setiap saat. Hal itu telah disepakati bersama antara Dirjen Hortikultura dengan Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam mengatur pola tanam di lapangan.

“Untuk panen bulan Agustus telah dirancang dan diperoleh dari luas tanam pada bulan Mei seluas 16.878 ha dan panen bulan September telah dirancang dan disiapkan dari areal tanam pada bulan Juni seluas 15.976 hektare, “ jelas Spudnik

(ika/JPC)

Posting Terkait