Waspadai Paham Ekstrim di Pemulihan Bencana Sulbar

5 views

Mamuju, Potretrakyat.com; – Sejumlah tokoh di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) menggelar webinar dialog “Komitmen Menjaga Moderasi Beragama pada Masa Transisi Darurat Bencana di Sulbar”.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kanwil Kemenag Sulbar, Muflih B Fattah, Ketua PWNU, Adnan Nota, dan Akademisi STAIN Majene, Muhammad Nasir. Sabtu, (24/4/2021).

Bertindak sebagai moderator, yakni Direktur Esensi Sulbar, Nur Salim Ismail.

Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Nasir menjelaskan, moderasi beragama adalah cara pandang dan praktik beragama yang tidak berlebihan dan merupakan lawan dari cara pandang sikap ekstrim.

“Ini menjadi tuntutan karena banyak permasalahan yang hadir di tengah umat yang dapat menjadi petaka jika tidak dikelola dengan baik,” jelasnya.

Moderasi beragama sendiri, lanjut Nasir, memiliki tujuan untuk menciptakan kehidupan harmonis, rukun, dan damai dalam perbedaan.

Menurutnya, paham atau aliran yang menginginkan perubahan sosial dan politik dengan cara kekerasan, dapat membawa ancaman kehidupan dalam keberagaman/moderasi beragama.

Ia pun menyinggung program trauma healing pascagempa Sulbar yang dapat menjadi momen masuknya kelompok Islam dengan berbagai ideologi. Gerakan itu bisa dengan memanfaatkan pemberian bantuan sembako, pendirian mesjid/musholla dan pembinaan agama yang dapat mendoktrin pemikiran paham agama para pengungsi.

“Untuk mengantisipasi hal tersebut dirasa perlu mencari akar masalah mengapa mudahnya para pengungsi gempa dipengaruhi oleh doktrin paham ekstrim beragama yang kemudian dapat menjadi dasar untuk memecahkan masalah yang dimaksud dengan memberdayakan penyuluh agama sebagai garda terdepan,” urai Muhammad Nasir.

Senada Nasir, Ketua PWNU, Adnan Nota menyebut, penanganan gempa di Sulbar adalah perang terbuka sejumlah ideologi, karena tidak ada pihak yang dapat melakukan pelarangan untuk memberikan bantuan terhadap korban gempa.

“Dikhawatirkan dengan cara ini akan sangat mudah aliran-aliran atau ideologi ekstrimisme untuk masuk dan menyebarkan ideologi masing-masing yang dianut kepada para korban gempa dan terbentuk sentimen agama yang mempengaruhi masyarakat untuk melakukan tindakan ekstrimisme,” paparnya.

Sasaran kelompok ekstrim, Adnan Nota melanjutkan, adalah kaum milenial dengan menggunakan pola gerakan Wasathiyah.

Kelompok itu telah berada di Kabupaten Mamuju dengan dalih membangun lembaga pendidikan.
Untuk itu, Adnan Nota menyerukan perlu penyebaran moderasi beragama utamanya bagi para kelompok milenial guna mengantisiasi paham ekstrim.

“NU secara tegas akan memperjuangkan harmonisasi agama dalam bingkai moderasi beragama,” tegasnya.

Sementara itu, Kanwil Kemenag, Muflih, membeberkan bahwa pihaknya bakal melaksanakan Kemah Pemuda Lintas Agama sebagai wujud aktualisasi moderasi beragama.

Apalagi, Kementerian Agama menargetkan 2022 sebagai Tahun Toleransi.

Pihaknya juga akan meluncurkan Perpustakaan Digital agar masyarakat mudah dalam mengakses bahan bacaan terkait keagamaan.

“Arahan kementerian yaitu aktualisasi moderasi beragama di Indonesia yang harus dikawal oleh seluruh Kanwil dan stakeholder yang ada di Kemenag, tata kelola pemerintahan di Kemenag dan toleransi beragama yang akan dicanangkan sebagai tahun toleransi pada tahun 2022,” imbuhnya.

Selain itu, Muflih juga mengaku telah memberikan pembinaan dan tugas kepada para penyuluh untuk menyebarkan pesan-pesan moderasi beragama, dengan harapan, terbangun harmonisasi keagamaan di Sulbar.

“Di lain hal perlu adanya kewaspadaan terhadap aliran-aliran radikal ekstrimisme yang bisa masuk di Sulbar dan mengganggu keutuhan bangsa dan Negara sambung Kanwil Kemenag Sulbar.
Kegian itu pun diisi sesi tanya-jawab dari beberapa peserta.// HM **

banner 468x60) banner 468x60) banner 468x60)

Posting Terkait